Let's Share

Stuck, have no idea

September 8th, 2010 trisnok

Inilah masalah yang sering dihadapi oleh para blogger pemula, bahkan yang sudah lama aktif di dunia blogging juga bisa mengalaminya. Aku sendiri yang sudah lama di dunia blogging masih sering stuck dan gak tau mau ngapain. Beberapa bulan belakangan ini, aku aktif membaca untuk menjaga agar otak tetap jalan…takutnya gak nge-blog dalam beberapa bulan bisa buat otak jadi buntu big grin Tetapi biarpun membaca buku, bukan berarti niat menulis gak ada, dengan bantuan website Goodreads, aku bisa menulis review dari buku-buku yang kubaca. Jadi selain menambah koleksi buku, dapat bacaan menarik, refreshing, bisa juga menulis happy

Mengenai solusi untuk masalah seperti ini, aku gak bisa kasih saran yang baik. Karena kalau aku sendiri, biasanya minat nge-blog tiba-tiba aja muncul dan tiba-tiba hilang. Kalau sudah mau nge-blog ya nge-blog kalau mau membaca ya membaca dan lain sebagainya.

Tetapi dari hasil analisaku (opsss udah mulai sok pintar nih big grin ) ada beberapa hal yang membuat kita sering kehabisan ide untuk nge-blog :

1. Kelamaan gak nge-blog, jadinya males

2. Sibuk cari ide cerita, mau nulis apa, jadinya tertunda mulu (padahal nge-blog gak harus punya tulisan seru-seru atau yang bermutu tinggi happy )

3. Yang sering mengganggu, kalau ada kerjaan yang menyita banyak pikiran. Biasanya hal ini yang paling sering buat minat nge-blog down

Yep, menurut aku sih ketiga hal tersebut yang buat aku males untuk nge-blog. Sedangkan solusi yang aku tawarkan untuk meningkatkan minat nge-blog lagi adalah Read the rest of this entry »

Tags: goodreads, males ngeblog, semangat, stuck, tips rajin ngeblog

Posted in My Story | 1 Comment »

Life is Like a Cup of Coffee

August 16th, 2010 trisnok

After I read this story, I realize now my biggest fault is like what the students did. Choosing the best cup without considering the essence of coffee.  And I am sure, is not only me..many people did.

Spiritual Story by Unknown


A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university professor. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.


Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups – porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some expensive, some exquisite – telling them to help themselves to the coffee.
When all the students had a cup of coffee in hand, the professor said: “If you noticed, all the nice looking expensive cups have been taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress.
Be assured that the cup itself adds no quality to the coffee. In most cases it is just more expensive and in some cases even hides what we drink. What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the best cups… And then you began eyeing each other’s cups.

Now consider this: Life is the coffee; the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life, and the type of cup we have does not define, nor change the quality of life we live.

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee. Savor the coffee, not the cups! The happiest people don’t have the best of everything. They just make the best of everything. Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly.

taken from here

Tags: coffee, Life

Posted in My Story | 1 Comment »

Last time with Hernita

August 2nd, 2010 trisnok

Setelah hampir sebylan penuh tidak menyentuh rumah ini, akhirnya ada juga sedikit ide yang bisa aku kembangkan kali ini. Yep, seperti judul postingan kali ini, “Last time with Hernita”, sebenarnya dia adalah teman satu kantor yang juga adik kelas dulunya sewaktu di kampus.

Hari ini adalah hari terkahir dia “mungkin” bisa berkumpul dengan kami, orang-orang yang baik hati happy (narsis dikit tongue ). Dan malam terakhir ini pun kami lewatkan di Coffee-Toffee, sambil menikmati makanan-makanan yang tentunya murah meriah hee hee karena kantong juga belum berisi nih :’(

Opss..sorry guys, koq jadi mau curhat masalah kantong heheheh blushing sebenarnya mau cerita sedikit mengenai si anak eh si Hernita ini. Dulu yah, duluuuu banget si Hermita dan temannya ini yang menjadi alasan kenapa aku terdampar di lokasi yang cukup jauh dari ibu kota sad tetapi syukurlah orang-orang disini juga cukup  “gila”, gak ada malunya, kemana aja OK, ngapain aja OK big grin so happy here!!!!

Nah, si Hermita ini akan move ke ibu kota untuk melanjutkan cita-citanya yang sudah sempat tertunda, yah semoga dia bisa sukses disana happy sekalipun aku harus menderita karena dia meninggalkan tanggungjawabnya yang sebelumnya ke aku hiks.. but just take the positive side-nya ajalah big grin “pembelajaran”!

Then, ada beberapa hal yang lucu dari si Hernita ini, yaitu dia suka banget sama BB, hadoh sampe semua BB yang ada di mall udah penah di elus-elus gara-gara mupeng banget plus dia juga suka banget elus-elus BB big bos, teman satu kantor lainnya…saluttt atas usaha dia mendapatkan BB gratis xixixix tapi keberuntungan masih belum berpihak kepada si Hernita, sehingga sampai sekarang dia belum bisa medapatkan BB nya laughing

Kami yang berkumpul sekarang ini ada 5 orang, yaitu Sanhenra (blognya lagi rusak hehehe ), Mbak Yari, Mbak Dessy, Hernita dan me big grin Aku juga mengetik ini sambil ngobrol dengan mereka, nah karena itu aku mau ngetikkan kutipan percakapan singkat yang rada-rada lucu (depend on kadar kelucuan masing-masing yah laughing )

Sanhenra : Bisa gak ngetik dengan mati lampu?

Mbak Yari : GIMANA MAU BISA????? (muka cemberut laughing ) kan mati lampu!!!

Sanhenra : ^%*(&&Q$$@$^@)@*@@#)(()#! maksudnya lampunya dimatikan!!!

All : ketawa hahahhaa laughing asli ketawa semua, soalnya semua memiliki pemikiran yang sama dengan si Mbak Yari hahahaha kemudian si Sanhenra akhirnya mempertegas big grin

Sanhenra : pake laptop!

Hahahaha ada-ada saja, inilah akibatnya kalau persepsi gak pernah disamakan laughing

Kalau diperhatikan lebih jauh, frasa “mati lampu” sebenarnya lampu yang dimatikan bukan listriknya, tapi dari percakapan di atas, seolah-olah “mati lampu” itu sama dengan “mati listrik” big grin Jadi tidak bisa Sanhenra disalahkan sepenuhnya.

Cukup dulu deh postingan kali ini, ntar jadi makin lari catatannya, padahal tadi pengen ceritain mengenai si Hermita eh si Hernita yang akan take off besok big grin

Good bye Hernita, semoga ditempat baru nanti bisa beradaptasi dengan cepat dan baik happy

Posted in My Story | 3 Comments »

« Previous Entries
  • Hi…

    My name is Eka Trisno Samosir from North Sumatera-Indonesia. Really wanna go to Taizé :) and still learning to be a good blogger.
    Thanks for stopping by!
  • Recent Posts

    • Stuck, have no idea
    • Life is Like a Cup of Coffee
    • Last time with Hernita
    • Eclipse Movie
    • Untitled
  • Categories

    • Movies Review
    • Ms. dotNet
    • My Religious
    • My Story
    • Troubleshooting
  • Twit-twit

    • Blogroll

      • Samosir
    • Frens

      • Ali Syah J. Samosir
      • Dion Barus
      • Irma Sari Barus
      • Nicholas Sihotang
      • Roberto Adiseputra
      • Samson
      • Sanhenra
    • My Community

    • Meta

      • Log in
      • Entries RSS
      • Comments RSS
      • WordPress.org
      • RSS SideNotes
    • Help Me To Taizé

    Let's Share is proudly edited by Eka Trisno Samosir | Bob